Saturday, September 30, 2017

Artificial Intelligence: Sejarah, Definisi dan Contoh Penerapan

Kategori: Tulisan

Post kali ini akan membahas seputar tentang Artificial Intelligence (AI), atau yang dalam bahasa Indonesia disebut sebagai "kecerdasan buatan". Adapun pembahasannya berkisar pada sejarah, definisi dan contoh dari penerapan AI pada teknologi yang dipergunakan di kehidupan sehari-hari.

A. Sejarah AI

Konsep terawal dari AI sudah dikenal jauh sebelum ilmu komputer muncul dan berkembang di dunia, dimana konsep AI sendiri berawal dari mitos, fiksi dan juga spekulasi yang beredar di antara kaum manusia pada masa lalu. Salah satunya seperti robot emas dari Hephaestus dan Galatea yang muncul dalam kisah mitologi Yunani pada masa dahulu kala, yang dimana ini menggambarkan bahwa manusia pada masa lalu sudah membayangkan keberadaan alat-alat mekanik yang dapat bekerja selayaknya seorang manusia. Dengan kata lain, konsep AI pertama kali muncul di dunia sebagai konsep manusia buatan (artificial human) dan mesin yang dapat berpikir (thinking machine) dengan cara yang mirip seperti cara berpikir manusia.

Pada abad ke-19, pemikiran tentang manusia buatan dan mesin yang dapat berpikir dikembangkan di dalam cerita-cerita fiksi seperti Frankenstein (karangan Mary Shelly), atau dalam spekulasi seperti Darwin Among the Machines (karangan Samuel Butler). Selain itu, L. Frank Baum (penulis cerita The Wonderful Wizard of Oz) membuat pula berbagai karakter fiktif manusia mekanik (yang di kemudian hari disebut robot), salah satunya karakter bernama Tiktok pada tahun 1907. Beliau mendeskripsikan karakter tersebut sebagai manusia mekanik yang "sangat responsif, dapat berpikir dan berbicara selayaknya seorang manusia secara sempurna". Alhasil penggambaran fiksi ini menjadi titik awal dari penggambaran tentang wujud akhir yang dituju dalam pengembangan AI yang dilakukan oleh para peneliti.

Dengan penemuan berbagai teknologi alat elektronik pada awal abad ke-20 serta pengembangan teknologi komputer pada periode 1940-an, kedua hal tersebut memicu dimulainya pengembangan dari konsep AI yang kita kenal pada masa sekarang ini. Istilah AI sendiri pertama kali dikemukakan oleh John McCarthy dalam konferensi yang diadakan di Dartmouth College pada tahun 1956, namun pemikiran terhadap AI sudah dimulai sejak tahun 1945, dimana Vannevar Bush mengemukakan tentang "sistem yang dapat memperkuat pengetahuan dan pemahaman seseorang" pada karyanya yang berjudul As We May Think. Selain itu Alan Turing menulis sebuah paper yang diterbitkan di jurnal Mind 49 yang terbit pada 1950 dengan topik utamanya berkisar pada konsep yang menyatakan bahwa "sebuah mesin dapat mensimulasikan seorang manusia dan kemampuannya untuk melakukan tindakan yang membutuhkan kecerdasan, salah satunya yaitu bermain catur".

Awalnya pada saat itu usaha yang dilakukan untuk mengembangkan AI lebih mengarah ke usaha untuk mengaplikasikan teknik robotika ke mesin secara mekanika, dibanding dengan menciptakan sistem yang dapat mengendalikan pergerakan dari mesin tersebut berdasarkan pemrograman yang dibuat untuk membentuk sejenis kecerdasan buatan. Walaupun begitu, dimulainya penggunaan komputer di institusi pendidikan serta badan pemerintahan secara luas sejak periode 1950-an membuat jumlah dari penelitian yang dilakukan untuk mengembangkan AI yang berdasarkan pada teknologi komputer meningkat secara tajam. Bahkan pada akhirnya pengembangan robot pun kemudian dilakukan bersama dengan pengembangan AI, sehingga terwujudlah perangkat yang diimpikan sejak zaman dahulu kala, yaitu mesin yang dapat bekerja secara otomatis dengan menggunakan kecerdasan buatan manusia yang ditanamkan di dalam mesin tersebut.

Jika diurutkan dalam daftar linimasa, maka beberapa peristiwa yang berkaitan dengan pengembangan AI dapat diurutkan sebagai berikut:
  1. 1956 - John McCarthy memperkenalkan istilah AI sebagai topik dalam Dartmouth Conference.
  2. 1957 - General Problem Solver (GPS) didemonstrasikan oleh Newell, Shaw dan Simon.
  3. 1963 - Program ANALOGY yang dibuat oleh Thomas Evans sebagai bagian dari karya untuk meraih gelar PhD di MIT sukses mendemonstrasikan percobaan yang menyimpulkan bahwa komputer dapat menyelesaikan masalah analogi yang sama seperti yang diberikan pada tes IQ.
  4. 1964 - Disertasi milik Danny Bobrow di MIT menunjukkan bahwa kemampuan komputer untuk dapat memahami bahasa natural secara baik memungkinkannya untuk menyelesaikan masalah aljabar dengan benar.
  5. 1967 - Program Dendral berhasil mendemonstrasikan proses penafsiran spektrum massa senyawa kimia organik. Program ini kemudian ditandai sebagai program berbasis pengetahuan paling pertama yang sukses dari segi bidang ilmu pengetahuan. Pada tahun yang sama, Joel Moses berhasil mendemonstrasikan program Macsyma yang berfungsi untuk memecahkan masalah penalaran simbolis dalam perhitungan integrasi matematika, dan program ini ditandai sebagai program berbasis pengetahuan paling pertama yang sukses dari bidang matematika.
  6. 1969 - Robot Shakey buatan SRI mendemonstrasikan penggabungan gerak, persepsi dan pemecahan masalah secara otomatis. Pada tahun yang sama, Roger Schank mendefinisikan model ketergantungan konseptual untuk pemahaman bahasa alamiah, dengan pengembangan lanjutan oleh Robert Wilensky dan Wendy Lehnert untuk model pemahaman cerita, dan Janet Kolodner untuk model pemahaman terhadap ingatan.
  7. 1973 - Grup The Assembly Robotics yang berlokasi di Edinburgh University membangun robot bernama Freddy yang dibuat untuk dapat menggunakan penglihatan dalam mengalokasikan dan membangun model dengan menggunakan prinsip kendali kecerdasan buatan.
  8. 1976 - Randall Davis mendemonstrasikan kekuatan dari penalaran tingkat meta dalam disertasi PhDnya di Stanford.
  9. 1979 - Hans Moravec sukses membuat dan mengujicoba Stanford Cart sebagai kendaraan tak berawak dengan kendali komputer pertama di dunia yang mampu melintasi ruangan yang dipenuhi dengan kursi serta mengelilingi laboratorium AI milik Stanford.
  10. 1981 - Danny Hillis merancang mesin koneksi yang merupakan sebuah arsitektur paralel berukuran masif yang membawa kekuatan baru terhadap pengembangan AI, dan juga terhadap pengembangan komputer pada umumnya.
  11. 1985 - Harold Cohen mendemonstrasikan program gambar otonom bernama Aaron yang telah dikembangkan oleh dirinya selama lebih dari sepuluh tahun dalam Konferensi Nasional AAAI, bersama dengan hasil karya selanjutnya yang menunjukkan perkembangan besar.
  12. 1989 - Dean Pomerleau dari CMU menciptakan ALVINN (An Autonomous Land Vehicle in a Neural Network), yang kemudian dikembangkan secara lebih lanjut menjadi sebuah sistem yang dapat mengendarai mobil dalam jarak tempuh jarak jauh di bawah kendali komputer.
  13. 1990-an - AI mengalami perkembangan sangat pesat, dengan jumlah demonstrasi ujicoba sistem berbasis AI yang meningkat tajam. Demonstrasi yang dilakukan di antaranya yaitu dalam bidang ilmu pembelajaran mesin, penalaran berbasis kasus, perencanaan multi-agen, penjadwalan, penalaran yang tidak pasti, data mining, realitas maya, permainan, dan berbagai bidang pembahasan lainnya.
  14. 1997 - program catur Deep Blue mengalahkan juara pertandingan olahraga catur tingkat dunia pada saat itu (Garry Kasparov) dalam sebuah pertandingan yang disaksikan secara luas.
  15. Akhir 1990-an - Program ekstrasi informasi yang berbasis AI seperti web crawler menjadi sangat penting dengan semakin berkembangnya World Wide Web (WWW).
  16. 2000 - Robot Nomad menjelajahi daerah terpencil dari Antartika untuk mencari contoh dari meteorit yang jatuh di sana.

B. Definisi AI

Ilustrasi penggambaran AI (sumber: videoblocks.com)

Sesuai dengan namanya, AI tersusun atas kata "artificial" (buatan) dan "intelligence" (kecerdasan), dimana kedua kata tersebut dapat dimaknai secara umum sebagai "sebuah konsep kecerdasan yang dibuat oleh manusia untuk memperkaya fungsi dari sebuah mesin". Namun jika diteliti, terdapat perbedaan definisi dari AI itu sendiri, di antaranya yaitu:
  1. Wilayah studi dari ilmu komputer yang berperan dalam pengembangan komputer yang dapat melakukan tindakan yang dilakukan oleh manusia, seperti belajar, menyimpulkan dan memperbaiki diri.
  2. Konsep yang menyatakan bahwa mesin dapat ditingkatkan kinerjanya untuk memiliki beberapa kemampuan yang secara normal hanya dimiliki oleh manusia.
  3. Perpanjangan tangan dari kecerdasan manusia melalui penggunaan komputer, seperti halnya penggunaan peralatan mekanis sebagai perpanjangan tangan dari tenaga fisik manusia.
  4. Disiplin ilmu yang mendedikasikan seluruh kegiatannya secara penuh terhadap memahami prinsip yang memungkinkan berbagai tindakan kecerdasan untuk dapat terwujud pada sistem alami dan buatan, serta mengembangkan metode untuk mendesain dan menerapkan artifak cerdas yang berguna.
Adapun dalam pendefinisian dari AI itu sendiri terdapat empat pendekatan utama, yaitu:
  1. Sistem yang bertindak seperti manusia - AI dibuat dengan mengedepankan prinsip yang menyatakan bahwa sistem dapat melakukan hal-hal yang membutuhkan kecerdasan ketika dilakukan oleh seorang manusia.
  2. Sistem yang berpikir seperti manusia - dalam pendekatan ini pola yang dikedepankan untuk mengembangkan sebuah AI adalah sistem melakukan otomatisasi seluruh kegiatan yang berkaitan dengan pikiran seorang manusia.
  3. Sistem yang berpikir rasional - pola pendekatan ini menggambarkan bahwa AI merupakan sebuah studi tentang komputasi yang memungkinkan untuk melihat, berpikir dan bertindak.
  4. Sistem yang bertindak rasional - prinsip dasar yang dijadikan pendekatan yaitu menetapkan AI sebagai cabang ilmu komputer yang memperhatikan otomasi terhadap perilaku cerdas dari suatu sistem.
Keempat pendekatan di atas tentu menggambarkan tujuan yang diinginkan dalam pengembangan AI, namun pada kenyataannya sistem AI pada masa sekarang lebih condong menggunakan pendekatan nomor 4. Hal ini dikarenakan sistem berbasis perilaku dapat diuji secara keilmuan dengan lebih mudah ketimbang sistem berbasis pikiran, dan pengujiannya sendiri didasarkan pada seberapa jauh kemampuan sistem AI untuk menyelesaikan sebuah masalah aktual dan juga menyelesaikan masalah tanpa harus sepenuhnya meniru pikiran manusia dalam mencari jalan keluarnya.

C. Contoh Pengaplikasian AI

Contoh antarmuka aplikasi Siri yang berbasis AI (sumber: iphonehacks.com)

Pada masa sekarang ini terdapat banyak contoh dari proses pengaplikasian konsep AI dan segala ide yang berkaitan dengannya dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam bidang teknologi informasi. Di bawah ini adalah beberapa contoh dari pengaplikasian AI yang dapat ditemui pada masa kini:
  1. Siri - aplikasi asisten pribadi yang dikembangkan oleh Apple ini mempergunakan konsep AI sebagai dasar dalam pengembangan sistem penunjang aktivitas pribadi yang dapat membantu sang pengguna dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Adapun fungsi yang ditanamkan pada Siri yaitu mencari informasi, menunjukkan arah, menambahkan event ke dalam kalender dan sebagainya. Dengan menggunakan AI yang diaktifkan oleh suara, pengguna cukup mengucapkan perintah yang ingin dikatakan lalu Siri akan bekerja secara otomatis untuk melayani perintah yang diberikan oleh pengguna.
  2. Amazon.com - sistem AI yang dikembangkan oleh tim pengembang IT dari situs web jual-beli barang berbasis daring Amazon.com memungkinkan pengelola untuk dapat memberikan rekomendasi tentang suatu barang terhadap pengunjung dari situs tersebut dengan berdasarkan perilaku yang dilakukan oleh sang pengunjung ketika menjelajahi situs Amazon.com. Prinsip ini tentunya memudahkan pengelola Amazon.com dalam mengetahui barang apa yang diminati oleh pengunjung situs tersebut.
  3. Netflix - penggunaan AI dalam sistem utama Netflix yaitu untuk memberikan rekomendasi judul suatu film kepada penonton dengan berdasarkan reaksi terhadap film yang ditonton sebelumnya. Adapun algoritma dari sistem AI milik Netflix sendiri dibuat untuk dapat mengambil judul film sesuai dengan reaksi dari penonton terhadap film sebelumnya dari database mereka yang berisi ribuan judul film dari masa ke masa, yang tentunya algoritma program AI itu sendiri dibuat untuk memiliki keakurasian yang sangat tinggi.
  4. Nest - untuk memprediksi kebutuhan penghangatan dan pendinginan secara baik, program AI yang ditanamkan ke dalam termostat pintar ini mempergunakan algoritma berbasis perilaku yang dapat menyesuaikan suhu dari suatu ruangan (baik itu di rumah atau di kantor) dengan kebutuhan pribadi dari sang pengguna. Dengan penggunaan algoritma AI yang berbasis perilaku, suhu ruangan dapat diatur oleh pengguna tanpa harus repot-repot menekan tombol pengatur suhu ruangan (baik itu pendingin atau penghangat ruangan) dalam frekuensi yang sangat sering, karena perilaku dari pengguna ketika berada di dalam ruangan tersebut menjadi parameter utama dari penentuan suhu ruangan oleh Nest.
Keempat contoh di atas membuktikan bahwa AI sangatlah membantu manusia untuk dapat menyelesaikan masalah yang sebelumnya tidak dapat diselesaikan oleh tangan manusia saja. Hal ini dikarenakan logika kecerdasan buatan yang ditanamkan di dalam sistem berbasis AI memungkinkan suatu perangkat (baik itu perangkat keras atau perangkat lunak) untuk dapat mengatur kinerja dirinya sendiri ataupun melayani manusia yang membutuhkan keberadaan perangkat tersebut, dengan pola kerja yang dapat mengurangi atau bahkan mengeliminasi campur tangan manusia terhadap operasional perangkat itu sendiri (di luar kondisi darurat). Sehingga dengan adanya AI ini manusia dapat menjalani kehidupan secara lebih nyaman dan lebih teratur tanpa harus terhalang oleh hal-hal yang dapat mengganggu aktivitas mereka.

D. Sumber

1. McCorduck, Pamela (2004), Machines Who Think (2nd ed.), Natick, MA: A. K. Peters, Ltd., ISBN 1-56881-205-1, OCLC 52197627
2. https://courses.cs.washington.edu/courses/csep590/06au/projects/history-ai.pdf
3. http://nzetc.victoria.ac.nz/tm/scholarly/tei-ButFir-t1-g1-t1-g1-t4-body.html
4. https://www.aaai.org/ojs/index.php/aimagazine/article/download/1848/1746
5. https://www.researchgate.net/publication/220605666_A_Very_Brief_History_of_Artificial_Intelligence
6. http://www.eolss.net/sample-chapters/c15/e6-44.pdf
7. https://aiukswgkelompok11.wordpress.com/definisi-artificial-intelligence/
8. http://homepage.divms.uiowa.edu/~hzhang/c145/notes/chap1.pdf
9. https://www.forbes.com/sites/robertadams/2017/01/10/10-powerful-examples-of-artificial-intelligence-in-use-today/2/#7409ac4e3c8b
10. https://www.slideshare.net/iqvis/9-examples-of-artificial-intelligence-in-use-today-71185536

Monday, June 19, 2017

Sekilas Tentang Service Level Agreement dan Operational Level Agreement

Untuk kesempatan kali ini penulis akan membahas tentang Service Level Agreement (SLA) dan Operational Level Agreement (OLA), berikut dengan contoh kasus yang terdapat pada perusahaan yang berkecimpung di dunia teknologi informasi (TI).

A. Service Level Agreement

Gambaran dari Service Level Agreement (sumber: kumitukonsultan.com/wp-content/uploads/2016/04/service-level-agreement-kumitu.jpg)

Secara sederhana, Service Level Agreement atau lebih sering disingkat sebagai SLA adalah suatu kontrak resmi (bersifat formal) pada tingkat layanan yang berisi poin-poin kesepakatan antara pihak penjual produk atau layanan dan pihak pelanggan yang menggunakan produk atau layanan tersebut. Biasanya kesepakatan tersebut dapat dinegosiasikan antar kedua pihak untuk mengidentifikasikan harapan, tanggung jawab dan memfasilitasi komunikasi antar kedua pihak yang diukur dengan jangka waktu tertentu.

SLA sangat diperlukan untuk menjembatani kedua pihak tersebut, karena antara keduanya dapat saja terjadi perbedaan dalam sisi harapan. Pada umumnya, seorang pelanggan menginginkan tersedianya produk atau jasa yang ingin dia nikmati dalam waktu cepat, sedangkan pihak penyedia membutuhkan waktu untuk dapat mewujudkan ketersediaan tersebut. Di sinilah SLA berperan sebagai jembatan antar kedua pihak, dengan fungsi utama dari SLA tersebut yaitu untuk menjembatani perbedaan harapan, mendefinisikan kewenangan dan tanggung jawab dari masing-masing pihak. Selain itu, SLA juga berfungsi sebagai alat ukur dari efektifitas penyediaan produk atau layanan yang ditawarkan oleh pihak yang menyediakan produk atau layanan tersebut.

Tujuan dari disusunnya SLA sendiri di antaranya yaitu:
  • Agar pihak terkait dapat mematuhi persyaratan yang telah dituliskan di dalam kontrak
  • Meningkatkan kepercayaan dan kepuasan dari pengguna
  • Mengawasi kinerja dari kelompok tertentu, individu atau sub-kontraktor
  • Untuk menetapkan harapan pengguna secara tepat mengenai tingkat responsibilitas dari penyedia produk atau layanan
  • Memungkinkan adanya perbaikan sistem untuk keandalan dan stabilitas produk atau layanan
  • Untuk memungkinkan pemberian sanksi kepada pihak yang tidak memiliki kinerja yang baik
  • Untuk menghasilkan data operasional yang akan dianalisa sebagai bagian dari inisiasi suatu tindakan preventif terhadap masalah yang akan terjadi
  • Untuk menunjukkan kinerja dan meningkatkan persepsi nilai fungsi TI dalam bisnis
Dalam SLA yang berlaku di dunia TI, ada beberapa poin yang menentukan apakah produk atau layanan yang ditawarkan pihak penjual telah memenuhi keinginan pengguna, yang di antaranya yaitu:
  • Ketersediaan dari sebuah layanan kepada pengguna
  • Pengambilan tolok ukur dari kinerja suatu sistem secara periodik untuk dibandingkan dengan kinerja sistem yang sebenarnya
  • Waktu pemberian respon dari aplikasi terhadap pengguna
  • Penetapan jadwal untuk memberitahukan pengguna tentang perubahan di sisi jaringan yang dapat berpengaruh terhadap aktivitas pengguna
Poin-poin di atas sangatlah penting untuk diperhatikan oleh kedua belah pihak yang terkait dengan SLA tersebut (baik itu pihak penyedia produk atau layanan maupun pihak pengguna). Ini dikarenakan apa yang tertulis di dalam kontrak SLA sangat menentukan bagaimana langkah yang tepat untuk memenuhi keinginan pengguna secara maksimal, sekaligus memungkinkan penyedia layanan untuk dapat menyelesaikan masalah yang terjadi selama pelaksanaan dari proses yang ditujukan untuk memenuhi keinginan pengguna.

Ketika membuat SLA, ada lima unsur yang harus diperhatikan, yaitu:
  • Supplier - dalam dunia IT, pihak supplier yang dimaksud yaitu mereka yang merupakan penyedia dari produk atau jasa layanan IT.
  • Input - merujuk kepada penyediaan dari berbagai sumber daya yang dibutuhkan untuk menyediakan produk atau layanan tersebut kepada pengguna.
  • Proses - berbagai proses yang terdapat di unsur ini memiliki tujuan yaitu untuk menghasilkan produk atau layanan IT yang selanjutnya akan ditawarkan kepada pengguna. Adapun prosesnya yaitu Proses Utama (contoh: menyusun kode utama program atau membuat desain tampilan suatu aplikasi), Proses Pendukung (contoh: menambahkan fungsi-fungsi pelengkap ke dalam aplikasi yang sedang dibuat) dan Proses Manajemen (contoh: menguji aplikasi yang dihasilkan secara terperinci untuk mencari kekurangan yang dapat diperbaiki sebelum akhirnya diberikan kepada pengguna).
  • Output - unsur ini mencakup semua produk atau layanan IT yang telah dihasilkan dari suatu proses
  • Customer - pihak yang membutuhkan atau menerima produk atau layanan IT yang diberikan oleh pihak supplier dikategorikan ke dalam unsur ini
Kelima unsur di atas harus diposisikan dalam porsi yang saling seimbang demi menjamin hubungan yang baik antara penyedia produk atau layanan dengan pengguna. Apabila porsi kelimanya seimbang, maka akan tercipta kesinambungan yang baik dan ideal dalam hubungan antara penyedia produk atau layanan dengan pengguna untuk jangka waktu yang panjang. Adapun diagram aliran proses dari SLA antara lain yaitu:
  • Mengidentifikasi portofolio layanan
  • Mendefinisikan kontrak yang mendasar
  • Mengidentifikasi parameter penting layanan
  • Mendefinisikan Persetujuan Tingkat Pelayanan (SLA)
  • Mendefinisikan proses peningkatan
  • Memantau SLA yang terkait dengan transaksi
  • Mengidentifikasi kasus spesifik yang dibutuhkan untuk peningkatan
  • Melaksanakan proses peningkatan yang sesuai
  • Mengambil tindakan pencegahan atau perbaikan
  • Mencegah pelanggaran SLA yang mungkin terjadi
  • Melaporkan penyesuaian SLA secara keseluruhan
  • Mengulas kinerja terhadap SLA
  • Menentukan apakah tujuan SLA realistis dan dapat dicapai
  • Negosiasi ulang definisi layanan dan atau tingkat layanan dengan perusahaan
B. Operational Level Agreement

Gambaran Operational Level Agreement (sumber: help.heatsoftware.com/content/resources/images/services_ola.png)

Berdasarkan namanya, Operational Level Agreement (disingkat sebagai OLA) dapat didefinisikan sebagai suatu perjanjian antara beberapa grup yang menangani bidang TI dalam sebuah perusahaan, dengan isi dari perjanjian tersebut menyatakan tentang tanggungjawab antara tiap grup dalam mendukung grup-grup lainnya untuk penyediaan sebuah atau serangkaian layanan berbasis TI di dalam internal perusahaan tersebut. OLA didesain untuk dapat mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah-masalah TI dengan cara mendefinisikan sebuah rangkaian kriteria dan layanan TI yang dimana tiap departemen bertanggungjawab terhadap hal-hal tersebut.

Ada beberapa perbedaan antara sebuah OLA dengan sebuah SLA, yang diantaranya yaitu:
  • SLA berfokus pada bagian pelayanan dari suatu perjanjian, sedangkan OLA berkisar di bidang teknik seperti perawatan dan sebagainya
  • SLA merupakan perjanjian yang menjembatani pihak pemberi layanan dan pihak pelanggan, sedangkan OLA berfungsi sebagai perjanjian antar pihak pendukung di dalam suatu institusi yang bersifa sebagai pendukung dari SLA
  • OLA memiliki konten yang bersifat lebih teknis ketimbang SLA
Umumnya OLA dipergunakan oleh perusahaan untuk:
  • Memfokuskan pada penilaian metrik kinerja diskrit seperti ketersediaan perangkat keras dan lunak
  • Menambahkan metrik untuk poin-poin kinerja tim pelayanan, waktu respons teknisi, serta kepuasan pelanggan terhadap pelayanan dari perusahaan
  • Menilai dampak ekonomi dari hilangnya sumber daya pada perusahaan
  • Mempublikasikan data statistik tentang kepuasan ke komunitas pengguna internal
Meskipun OLA bersifat sebagai sebuah perjanjian khusus internal perusahaan, namun OLA memiliki peran yang penting dalam pembuatan sebuah SLA. Hal ini dikarenakan OLA sangat membantu tim pendukung untuk dapat menjamin bahwa kegiatan pendukung yang dilakukan oleh tim tersebut dapat disesuaikan secara jelas dalam menyediakan SLA yang akan diberikan kepada calon pelanggan. Dengan kata lain, OLA tidak dapat menggantikan SLA, atau tidak hadir sama sekali di dalam proses pembuatan SLA. Apabila OLA tidak ada sama sekali, maka akan terjadi masalah dimana perusahaan tidak dapat membuat perjanjian yang bersifat menghubungkan antar tim pendukung dalam usaha untuk memberikan SLA kepada pelanggan secara tepat waktu.

C. Contoh Kasus

Jogjahost merupakan sebuah perusahaan TI yang berlokasi di kota Yogyakarta, dengan produk yang ditawarkan oleh perusahaan ini yaitu jasa pembuatan dan hosting dari nama domain situs web. Untuk memastikan bahwa pelayanan yang diberikan oleh perusahaan ini berada dalam tahap yang maksimal, maka perusahaan ini menetapkan SLA antara pihaknya dengan pelanggan, yang isinya tertera sebagai berikut:

1. SLA yang dibuat oleh Jogjahost hanya berlaku antara Jogjahost sebagai pihak penyedia jasa dan pelanggan yang terdaftar secara langsung di daftar pelanggan Jogjahost
2. Pelanggan dari reseller atau pihak lain yang secara tidak langsung menggunakan layanan Jogjahost namun tidak terdaftar langsung sebagai pelanggan tidak berhak mendapatkan SLA yang diberikan oleh Jogjahost sebagai penyedia

Adapun isi dari SLA yang diberikan oleh Jogjahost yaitu sebagai berikut (dengan pengubahan seperlunya):

1. Uptime 99% - Jaminan Uptime Konektivitas Internet

Jogjahost memberikan jaminan konektivitas internet pada host server sebesar 99% uptime per bulan di luar downtime akibat maintenance yang sebelumnya telah di umumkan melalui Email. Untuk server yang berlokasi di Amerika Serikat, pelanggan mendapatkan jaminan redundancy link ke berbagai backbone internasional, sedangkan untuk server yang berlokasi di Indonesia, pelanggan mendapatkan jaminan konektivitas internasional dan konektivitas langsung ke local exchange (IIX atau OIXP). Kegagalan terhadap penyediaan konektivitas internet oleh Jogjahost pada server hosting akibat gangguan jaringan dapat diklaim apabila berlangsung melebihi batas 1% dalam satu bulan dan terjadi dalam satu waktu, tidak termasuk akumulasi dari gangguan yang terjadi dibawah 1%.

2. Server - Jaminan Uptime Server

Jogjahost memberikan jaminan uptime server sebesar 99% uptime per bulan di luar downtime akibat perawatan yang sebelumnya telah diumumkan melalui surat elektronik. Untuk menjaga kinerja dari server, Jogjahost melakukan perawatan secara rutin pada akhir pekan. Selama masa perawatan, ada kemungkinan server akan direboot tanpa adanya notifikasi. Kegagalan terhadap penyediaan uptime server oleh Jogjahost dapat diklaim apabila berlangsung melebihi batas 1% dalam satu bulan dan terjadi dalam satu waktu, tidak termasuk akumulasi dari gangguan yang terjadi dibawah 1%.

3. Security - Jaminan Keamanan Data

Jogjahost tidak dapat menjamin terhadap isi dari akun hosting pelanggan yang meliputi file, database, email, dan pelanggan bertangung jawab penuh terhadap isi dari akun hosting milik pelanggan. Demi menjaga keamanan data pelanggan, Jogjahost memberikan backup file yang dibackup setiap minggu sekali, tetapi walaupun demikian Jogjahost tetap tidak dapat menjamin seluruh file backup dalam kondisi 100% sempurna. Layanan backup ini hanya diberikan untuk akun dengan maksimal penggunaan hosting sebesar 2GB.

4. Firewall

Untuk pagar keamanan paling depan Jogjahost menggunakan firewall. Pelanggan bisa saja tidak dapat mengakses situs milik pelanggan yang dikarenakan keberadaan dari firewall. Beberapa hal yang dapat mengakibatkan pelanggan terblokir oleh firewall milik Jogjahost:

a. Salah memasukan username dan password ke cpanel/webmail
b. Salah memasukan username dan password ke FTP
c. Koneksi internet anda secara otomatis terputus disaat sedang melakukan upload data melalui FTP
d. Koneksi internet anda secara otomatis berganti ganti IP saat mengakses cpanel/webmail dan juga FTP
e. Isi dari situs terblokir karena mengandung script yang dianggap berbahaya

Pelanggan yang tidak dapat mengakses situs dikarenakan firewall ini tidak termasuk dalam 1% maksimal jaminan uptime network dari Jogjahost

5. Klaim Kegagalan - Klaim Atas Kegagalan Jaminan

a, Klaim atas kegagalan jaminan di atas dapat di klaim dalam waktu maksimal 3 hari setelah terjadinya gangguan.
b. Klaim kegagalan uptime server dan uptime network harus disertai bukti hasil traceroute ke arah domain pelanggan dalam waktu terjadinya gangguan dan akan dilakukan crosscheck dengan data milik Jogjahost.
c. Jaringan milik Jogjahost tidak dapat di monitoring oleh layanan pihak ketiga seperti www.pingdom.com atau www.host-tracker.com, sehingga klaim yang menggunakan layanan seperti ini tidak diterima oleh Jogjahost
d. Klaim akan ditolak apabila terjadinya kegagalan atas Jaminan Uptime Konektivitas Internet disebabkan oleh pihak lain yang berada di luar tanggung jawab Jogjahost, termasuk dan tidak terbatas didalamnya :
  • Gangguan konektivitas internet pada ISP pelanggan
  • Gangguan konektivitas internet yang terjadi pada salah satu rute yang menjadi jalur konektivitas dari pelanggan ke server Jogjahost
  • Gangguan yang disebabkan oleh force majeure
  • Gangguan yang disebabkan oleh adanya gangguan yang ditimbulkan oleh pihak lain
e. Apabila gangguan yang diklaim oleh pelanggan datanya cocok dengan data milik Jogjahost, maka Jogjahost wajib mengembalikan biaya hosting selama 1 bulan penuh dalam bentuk uang atau dalam bentuk kompensasi lain yakni penambahan masa berlaku hosting selama 1 bulan. Klaim kegagalan jaminan otomatis akan batal apabila :
  • Account hosting pelanggan dinyatakan melanggar Terms of Service
  • Account hosting pelanggan telah di suspend atau dihapus
f. Klaim kegagalan layanan hanya berlaku untuk layanan hosting, Dedicated Server dan Virtual Private Server. Sedangkan layanan yang berhubungan dengan pihak ketiga seperti layanan registrasi nama domain dan layanan managed DNS dan domain forwarding yang bersifat gratis tidak dapat diklaim saat terjadi kegagalan layanan. Bagaimanapun juga Jogjahost akan berusaha sebaik-baiknya untuk menyampaikan masalah ini kepada pihak ketiga yang terkait

6. Pajak - Pemungutan Pajak

a. Setiap transaksi penjualan di Jogjahost dikenakan PPN sebesar 10%. Pelanggan dapat meminta kepada Jogjahost untuk mengirimkan faktur pajak dengan melalui email atau melalui surat fisik (dikenakan biaya pengiriman jika menggunakan surat fisik)
b. Untuk Instansi Pemerintah (prefix NPWP 00), jika total pembayaran (termasuk PPN) sejumlah lebih besar dari Rp. 1.000.000,-, maka bendahara instansi pemerintah tersebut wajib memungut, melakukan pembayaran, dan menyerahkan SSP lembar 1 dan 3 ke Jogjahost
c. Untuk Instansi Pemerintah (prefix NPWP 00), jika total pembayaran (termasuk PPN) sejumlah kurang dari Rp. 1.000.000,-, maka bendahara instansi pemerintah tersebut wajib melakukan pembayaran sesuai jumlah invoice yang telah ditambahkan PPN didalamnya. Jogjahost akan mengirimkan faktur dalam waktu 2 minggu setelah pembayaran diterima
d. Untuk informasi lebih lanjut mengenai pemungutan pajak, silahkan hubungi Jogjahost di nomor telepon 0274-8300046

7. Pembayaran - Billing dan Pembayaran

a. Semua layanan kecuali domain dan dedicated server kami berlakukan sistem pro rata, dimana seluruh tagihan akan jatuh tempo pada tangga 1 setiap bulanya.
b. Batas perhitungan pro rata untuk pembelian awal diterapkan sebelum tanggal 1-14 dan 14-akhir bulan akan dikenakan biaya bulan tersebut + bulan berikutnya jika memesan bulanan. Contoh:
  • Tanggal 5 April pelanggan memesan hosting seharga Rp. 100.000, maka tanggal 5 pelanggan berkewajiban membayar Rp83.3333, dan pada awal bulan Mei pelanggan mendapatkan tagihan full Rp100.000
  • Tanggal 20 April pelanggan memesan hosting seharga Rp. 100.000, maka tanggal 20 April pelanggan berkewajiban membayar Rp133.333, dan pelanggan tidak dikenakan tagihan pada bulan Mei. Tagihan akan diperoleh pada 1 Juni
c. Untuk layanan domain dan dedicated server akan mendapatkan tagihan sesuai dengan tanggal pemesanan
d. Jogjahost akan mengeluarkan tagihan pada email dan SMS kontak yang terdaftar pada sistem billing Jogjahost 14 hari sebelum tagihan jatuh tempo.
e. Domain yang expire secara otomatis akan di redirect oleh pihak registrar pada tanggal jatuh tempo dan untuk mengembalikannya agar bisa diakses butuh waktu antara 6 – 72 jam.
f. Hosting yang habis masa berlakunya akan dikenakan suspend 10 hari setelah jatuh tempo pembayaran dan akan dibatalkan layanannya 14 hari setelah jatuh tempo.
g. Hosting yang telah dibatalkan layanannya karena keterlambatan pembayaran dapat diaktifkan kembali dengan tambahan biaya re-aktivasi dan biaya berlangganan.
h. Jogjahost tidak memberikan jaminan backup pada akun yang telah dibatalkan. Walaupun demikian pihak Jogjahost tetap akan mengupayakan melakukan recovery data pelanggan, tetapi akan timbul biaya untuk hal ini
i. Setiap pembayaran yang dilakukan harus dikonfirmasikan terlebih dahulu melalui halaman website http://konfirmasi.jogjahost.co.id
j. Apabila dalam waktu 24 jam setelah mengkonfirmasikan pembayaran ternyata pelanggan belum menerima email, Jogjahost menyarankan untuk segera menghubungi Jogjahost apabila hal ini terjadi untuk melakukan klarifikasi ulang mengenai pembayaran yang telah dilakukan.
k. Jogjahost tidak bertanggungjawab atas pembayaran yang tidak dikonfirmasikan. Konsekuensi - konsekuensi yang timbul akibat hal itu seperti:
  • Domain expire / hilang
  • Akun hosting tersuspend
  • Timbulnya biaya re-aktivasi
  • Konsekuensi lainnya yang sepenuhnya menjadi tanggungjawab pelanggan
D. Sumber Referensi

1. http://www.bppk.kemenkeu.go.id/publikasi/artikel/167-artikel-pajak/12530-mengenal-lebih-dekat-sla-service-level-agreement
2. http://searchitchannel.techtarget.com/definition/service-level-agreement
3. http://modulmakalah.blogspot.co.id/2016/12/Manajemen.SLA.Service.Level.Agreement.Pengertian.Contoh.dan.Fungsi.html
4. http://www.knowledgetransfer.net/dictionary/ITIL/en/Operational_Level_Agreement.htm
5. http://whatis.techtarget.com/definition/operational-level-agreement-OLA
6. https://en.wikipedia.org/wiki/Operational-level_agreement
7. http://saas.y-im.de/smHelpCodeless/Content/sla/concepts/operational_level_agreements.htm
8. https://www.jogjahost.co.id/sla.php
9. http://www.differencebetween.net/miscellaneous/difference-between-ola-and-sla/

Friday, May 19, 2017

Pembahasan dan Perbandingan Framework Manajemen Layanan SI

Pada post kali ini, penulis akan membahas secara sederhana tentang 3 framework dari manajemen layanan sistem informasi (SI), berikut dengan perbandingan antara ketiganya. Adapun framework yang dibahas yaitu Application Services Library (ASL), Microsoft Operations Framework (MOF) dan Control Objectives for Information and Related Technology (COBIT).

A. Application Services Library (ASL)

Framework ini pertama kali dikembangkan pada akhir era 1990-an di Belanda sebagai model milik R2C, yang dimana framework ini dikembangkan dengan tujuan untuk memberikan metode-metode terbaik yang dapat dipergunakan untuk melakukan standardisasi berbagai proses dalam pengelolaan siklus hidup sebuah aplikasi komputer (dalam hal ini yaitu aplikasi sistem informasi). Pada tahun 2000, framework ini berevolusi menjadi ASL, lalu pada 2001 diserahkan pengembangannya ke ASL BiSL Foundation (ketika itu masih bernama ASL Foundation). Setelah itu ASL dirilis ke publik pada tahun 2002, dan kemudian pada tahun 2009 dirilis versi kedua dari ASL (yaitu ASL2) yang ditujukan sebagai penyempurnaan dari ASL.

Pengembangan dari ASL sendiri ditujukan untuk mendukung manajemen aplikasi dengan menyediakan berbagai perangkat yang diperlukan oleh aktivitas-aktivitas tersebut. Adapun tujuan dari ASL yaitu untuk membantu seluruh proses profesionalisasi dari manajemen aplikasi.

Dalam struktur framework ASL2 (yang merupakan versi terbaru ASL hingga saat ini), terdapat 3 tingkat, 6 cluster dan 26 proses yang tersedia, yaitu:
  • Tingkat Operasional - tingkat ini memiliki 3 cluster, yaitu:
    • Application Support - pada cluster ini proses-proses yang termasuk di dalamnya dibuat untuk mendukung penggunaan SI secara harian. Proses-proses tersebut adalah:
      • Use Support
      • Configuration Management
      • IT Operation Management
      • Continuity Management
    • Application Maintenance and Renewal - cluster ini berisi 5 proses yang berkisar pada pengembangan aplikasi. Adapun prosesnya yaitu:
      • Impact Analysis
      • Design
      • Realization
      • Testing
      • Implementation
    • Connecting Processes - secara sederhana cluster ini berisi 2 buah proses yang bertugas untuk melakukan sinkronisasi dari aktivitas Service Organisation dan aktivitas pengembangan serta perawatan. Prosesnya yaitu:
      • Change Management
      • Software Control and Distribution
  • Tingkat Manajemen - ada 1 cluster yang terdapat pada tingkat ini, yaitu:
    • Management Processes - pada cluster ini terdapat proses-proses yang didefinisikan untuk pengelolaan berbagai aktivitas dalam berbagai cluster di tingkat operasional. Adapun prosesnya berada di tingkat taktis dan dipergunakan untuk mengendalikan proses operasional. Proses-prosesnya sendiri yaitu:
      • Contract Management
      • Planning and Control
      • Quality Management
      • Financial Management
      • Supplier Management
  • Tingkat Strategis - terdapat 2 cluster dalam tingkat ini, yaitu:
    • Application Strategy - cluster ini berfungsi sebagai wadah dari penyusunan berbagai strategi yang diperlukan untuk memperkirakan seperti apa kebutuhan terhadap sebuah aplikasi di masa depan, berikut dengan tampilannya di masa depan. Proses yang terdapat di dalamnya yaitu:
      • IT Developments Strategy
      • Customer Organizations Strategy
      • Customer Environment Strategy
      • Application Lifecycle Management
      • Application Portfolio Management
    • Application Management Organization Strategy - berdasarkan fungsinya, cluster ini berisi proses yang menentukan bagaimana strategi yang tepat dalam pengelolaan organisasi untuk menangani berbagai pengelolaan aplikasi. Prosesnya yaitu:
      • Account and Market Definition
      • Capabilities Definition
      • Technology Definition
      • Supplier Definition
      • Service Delivery Definition
Selain itu ASL2 menawarkan sebuah maturity model yang memiliki 5 tingkat proses kematangan pengelolaan sebuah layanan SI, yang dimana tingkatannya adalah:
  • Tingkat 1 - Initial
  • Tingkat 2 - Repeatable
  • Tingkat 3 - Defined and Managed
  • Tingkat 4 - Optimizing
  • Tingkat 5 - Chain

B. Microsoft Operations Framework (MOF)

Sesuai dengan namanya, framework ini dikembangkan oleh Microsoft sebagai sebuah panduan bagi praktisi SI tingkat profesional dalam membentuk dan mengimplementasikan layanan SI yang efektif dalam biaya dan dapat diandalkan. Adapun framework ini dikembangkan dari framework IT Infrastructure Library, dengan cakupan yaitu bidang SDM, prosedur dan teknologi yang berkaitan dengan seluruh sistem layanan SI.

Ada empat prinsip dasar dari MOF, yaitu:
  • Arsitektur yang terstruktur - model yang terdapat di dalam MOF memberikan struktur untuk integrasi proses, penanganan siklus hidup, pemetaan peran dan tanggung jawab, dan pengelolaan terhadap perintah dan kendali dalam sistem secara keseluruhan. Selain itu, MOF juga memberikan fondasi untuk otomatisasi proses dan operasi yang terfokus pada teknologi
  • Penyempurnaan berbasis iterasi dengan siklus yang cepat - MOF mempergunakan konsep ini untuk memungkinkan terbentuknya sebuah ketahanan terhadap lingkungan bisnis yang agresif, dengan cara memanfaatkan siklus hidup bersifat iteratif yang mendukung kapabilitas untuk dapat menerapkan perubahan secara cepat dan melakukan penilaian serta perbaikan secara terus-menerus
  • Pengelolaan berbasis evaluasi berkala - MOF mempergunakan evaluasi berkala yang dilakukan pada tiap akhir tahapan dalam siklus iterasi untuk membantu pengelolaan dari lingkungan operasi yang dapat memaksimalkan keuntungan dari investasi terhadap layanan SI, selain tentunya mengandalkan Service Management Function (SMF) untuk pengelolaan tersebut
  • Pengelolaan risiko yang tertanam di dalam prosedur - dalam model pengelolaan risiko secara menyeluruh yang ditawarkan oleh MOF, terdapat konsep-konsep pengelolaan risiko yang diterapkan melalui seluruh operasi yang dilakukan di sistem untuk memperluas pandangan tentang bagaimana tindakan yang tepat untuk pengelolaan risiko terhadap kemungkinan dari sebuah sistem untuk mengalami masalah
Sedangkan struktur dari MOF yaitu berupa siklus yang dijabarkan sebagai berikut:

Siklus MOF (sumber: technet.microsoft.com/en-us/library/bb497036.aspx)

  • Siklus Changing - siklus ini berfungsi sebagai tempat dari pengelolaan berbagai perubahan yang akan dilakukan terhadap sebuah sistem, dengan proses yaitu:
    • Change Management
    • Configuration Management
    • Release Management
  • Siklus Operating - pada siklus ini segala pengelolaan terhadap operasional dari sistem dilakukan secara teliti dan menyeluruh. Adapun prosesnya yaitu:
    • System Administration
    • Security Administration
    • Service Monitoring and Control
    • Job Scheduling
    • Network Administration
    • Directory Services Administration
    • Print and Output Management
    • Storage Management
  • Siklus Supporting - sesuai dengan namanya, siklus ini berisi langkah-langkah pengelolaan yang berupa dukungan terhadap pengguna untuk segala hal yang terjadi selama sistem beroperasi, baik itu kerusakan sistem akibat hal yang tidak diduga dan yang lainnya. Prosesnya terdiri dari:
    • Service Desk
    • Incident Management
    • Problem Management
  • Siklus Optimizing - siklus ini berisi berbagai tahap pengelolaan yang dibutuhkan untuk mengoptimalkan infrastruktur, keamanan, kerjasama antar pegawai dan dukungan terhadap sistem. Proses-prosesnya yaitu:
    • Service Level Management
    • Financial Management
    • Service Continuity Management
    • Availability Management
    • Capacity Management
    • Workforce Management
Di antara tiap siklus terdapat evaluasi, yang dimana evaluasinya berupa sebagai berikut:
  • Release Readiness Review - berada di antara siklus Changing dan siklus Operating, evaluasi ini berfungsi untuk menguji bagaimana kesiapan dari sebuah sistem untuk dapat dilepaskan ke pasaran dan dioperasikan oleh pengguna
  • Operations Review - evaluasi ini dilakukan di antara siklus Operating dan siklus Supporting, dengan sasaran pengujian yaitu apakah terdapat masalah dalam sistem yang dioperasikan oleh pengguna atau tidak
  • Service Level Agreement Review - evaluasi ini berada di antara siklus Supporting dan siklus Optimizing, dengan fungsi utama yaitu menguji kesiapan suatu sistem untuk dioptimalkan kinerjanya berdasarkan persetujuan antara pihak yang menangani support terhadap sistem dan pihak yang bertugas untuk optimalisasi sistem
  • Release Approved Review - fungsi dari evaluasi ini yaitu berupa menguji apakah kesiapan suatu sistem untuk dilepas ke pasaran telah disetujui oleh pihak pembuat dan pihak pengguna

C. Control Objectives for Information and Related Technology (COBIT)

Dikembangkan oleh ISACA (Information Systems Audit and Control Association), framework ini ditujukan untuk membantu pengembangan tatakelola layanan SI dari suatu perusahaan secara profesional. Framework ini menyediakan penjabaran yang bersifat end-to-end untuk menggambarkan peran utama dari informasi dan teknologi dalam menciptakan nilai dari suatu perusahaan. Ada 5 prinsip kunci yang dijadikan sebagai dasar dari COBIT untuk pendefinisian tatakelola dari layanan SI, yaitu:
  • Pemenuhan kebutuhan stakeholder
  • Melindungi titik-titik penting perusahaan
  • Penggunaan sebuah framework terintegrasi
  • Memungkinkan pendekatan secara holistik
  • Memisahkan tatakelola dengan manajemen
Struktur dan prinsip COBIT (sumber: http://www.ensight.ro/newsletter/no54/images/img1mare.jpg)

Berdasarkan diagram di atas, struktur utama dari COBIT yaitu terdiri atas 7 unsur penggerak berikut ini:
  • Principles, Policies and Frameworks - bagian ini merupakan sarana untuk menginterpretasikan berbagai tingkah laku yang diinginkan ke dalam petunjuk praktek untuk pelaksanaan segala aktivitas pengelolaan harian
  • Processes - menjelaskan kumpulan terorganisasi dari berbagai praktik dan aktivitas yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan, serta menghasilkan sekumpulan keluaran di dalam dukungan pencapaian seluruh sasaran dari layanan SI
  • Organisational Structures - di sini yang dimaksud yaitu merupakan penataan terhadap struktur dari entitas pembuatan keputusan kunci di dalam sebuah perusahaan
  • Culture, Ethics and Behaviour - hal ini mencakup perbaikan dari berbagai kebiasaan dari individu yang ada di dalam perusahaan (atau bahkan kebiasaan dari perusahaan itu sendiri) yang sering dianggap sebagai faktor penghambat kesuksesan di dalam berbagai aktivitas tatakelola, sehingga dengan adanya perbaikan ini jalan bagi sebuah perusaahaan untuk mencapai kesuksesan semakin lancar
  • Information - pada dasarnya ini merujuk ke semua kebutuhan tentang kepastian dari berjalannya suatu perusahaan secara baik, termasuk dalam hal tatakelola yang dilakukan
  • Services, Infrastructure and Applications - bidang yang disasar yaitu layanan dan proses dari SI yang dibutuhkan oleh perusahaan
  • People, Skills and Competencies - unsur ini dibutuhkan dalam penyelesaian semua aktivitas tatakelola, berikut dengan kemampuan yang berkaitan dengan pengambilan keputusan yang tepat maupun aksi perbaikan yang dibutuhkan ketika ada suatu hal yang tidak diinginkan

D. Perbandingan antar framework

Berdasarkan ketiga framework manajemen layanan SI yang telah dibahas di bagian atas, maka dapat dibuat beberapa perbandingan antara ketiga framework tersebut. Perbandingannya yaitu terdiri dari beberapa variabel yang di antaranya adalah:
  • Pola penjabaran proses - ASL menggunakan pola hirarkis yang dibagi ke dalam beberapa cluster dalam menjabarkan proses-proses yang terlibat di dalam framework, sedangkan MOF menggunakan pola iterasi berkelanjutan, dan COBIT menggunakan pola cluster untuk menjelaskan hubungan antar proses di dalam framework tersebut
  • Dukungan pelayanan - ASL mengedepankan dukungan pelayanan kepada klien dengan menggunakan proses yang berbasis bisnis, sementara COBIT dan MOF menggunakan prinsip dukungan berbasis teknis dan organisasional (termasuk dalam hal ini tentang pengelolaan tenaga kerja serta budaya dan etika yang terdapat di dalam organisasi)
  • Sistem evaluasi - MOF menggunakan sistem evaluasi berbasis keseluruhan yang ditempatkan di antara tiap siklus iterasi, sedangkan COBIT dan ASL menempatkan evaluasi di tiap proses secara mendetail dan tidak tercampur antara satu sama lain
  • Teknik pengelolaan - ASL dan COBIT difokuskan ke dalam pengelolaan layanan SI secara luas dan tidak terbatas di salah satu jenis teknologi, sedangkan MOF mengusung pengelolaan layanan SI yang berdasarkan pada teknologi buatan Microsoft di samping teknik pengelolaan layanan yang bersifat umum
  • Pengelompokan sumber daya - COBIT mengelompokkan sumber daya ke dalam suatu sektor proses tersendiri yang membuat manajemen sumber daya dapat terfokus secara teliti, sedangkan ASL dan MOF cenderung mencampurkan manajemen sumber daya bersama dengan proses lainnya, sehingga dibutuhkan tindakan manajemen yang sangat hati-hati
Dari perbandingan di atas, dapat digambarkan bahwa masing-masing framework yang dibahas kali ini memiliki perbedaan yang menonjolkan ciri khas masing-masing framework tersebut, baik itu dari segi pola aktivitas, teknik pengelolaan dan sebagainya. Namun tidak dipungkiri bahwa semuanya memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk membantu usaha dalam memaksimalkan manajemen layanan SI. Maka dapat dikatakan bahwa semua framework manajemen layanan SI sangatlah berguna bagi pemaksimalan tiap bagian dari manajemen layanan SI yang dilakukan sehari-hari, apapun itu bentuk layanannya.

E. Sumber

http://aslbislfoundation.org/asl/
https://technet.microsoft.com/en-us/library/bb497036.aspx
https://blogs.itb.ac.id/dudi4studi/2012/10/03/cobit-5-hanya-untuk-tatakelola-dan-manajemen-teknologi-informasi-perusahaan/
http://www.isaca.org/COBIT/Pages/default.aspx

Monday, April 17, 2017

Review Jurnal Manajemen Layanan SI - SI dan Total Quality Management

Judul: Peran Sistem Informasi dalam Implementasi Total Quality Management
Penulis: Ahmad Zakaria Siam, Khalid Alkhateeb dan Sami Al-Waqqad


A. Latar Belakang

Dalam suatu organisasi pada masa kini, keberadaan teknologi informasi (TI) sudah menjadi sesuatu yang sangat wajib untuk dipahami dan dikuasai oleh siapapun yang menjadi anggota dari organisasi tersebut. Hal ini dikarenakan TI memudahkan siapapun untuk melakukan manajemen dari seluruh aktivitas yang dilakukan di dalam organisasi tersebut secara lebih cepat, tepat sasaran, sistematis, dapat dipertanggungjawabkan dan fleksibel, sehingga ini memungkinkan terjadinya peningkatan kinerja yang dapat mendukung tercapainya tujuan dari organisasi tersebut. Salah satu solusi berbasis TI yang tepat untuk ini adalah dengan mengimplementasikan penggunaan perangkat lunak sistem informasi (SI) manajemen pada seluruh tingkat organisasi.

Sementara itu, Total Quality Management (TQM) merupakan metode manajemen yang mengedepankan kualitas sebagai bagian terpenting dari seluruh proses dalam suatu organisasi. Metode TQM ini menuntut seluruh partisipan dalam organisasi tersebut untuk bekerja secara maksimal, yang dimana tujuan utama dari metode ini sendiri yaitu memberikan kepuasan kepada konsumen, yang pada akhirnya akan berujung kepada kesuksesan dari organisasi tersebut, serta menguntungkan seluruh anggota organisasi maupun masyarakat yang ada di sekitarnya.

Dalam jurnal yang akan dibahas pada kesempatan kali ini, penulis dari jurnal tersebut membahas tentang bagaimana peran SI dalam penerapan metode TQM di organisasi, yang dimana objek penelitian yang dipergunakan yaitu manajer departemen operasional dari perusahaan-perusahaan berbeda yang beroperasi di Sohar Industrial State di negara Oman.

B. Masalah

Pada jurnal ini, masalah yang diangkat adalah bagaimana SI dapat menunjukkan perannya dalam memberi bantuan dan dukungan terhadap proses dari TQM yang diterapkan di berbagai perusahaan yang beroperasi di Sohar Industrial State. Hal ini dikarenakan pada saat penelitian dilakukan perusahaan yang menjadi objek penelitian telah atau sedang melakukan penerapan SI dalam mendukung penerapan TQM. Untuk itu, penelitian ini ditujukan untuk mengukur efektivitas dari SI pada TQM di perusahaan yang menerapkan metode manajemen tersebut.

C. Hasil

Hasil yang didapat dari penelitian pada jurnal yang dibahas kali ini yaitu SI memudahkan penerapan TQM dalam hal manajemen hal-hal yang berkaitan dengan informasi dan analisa, penjaminan kualitas output, kepuasan pelanggan, perencanaan berbasis strategi dan kepemimpinan. Meskipun dalam jurnal ini dinyatakan bahwa penggunaan SI sebagai alat bantu dukungan terhadap dimensi hasil kualitas dan penjaminan kualitas pada penelitian ini tidak terlalu berefek besar, namun berdasarkan penelitian ini pula penulis dari jurnal menyatakan bahwa SI dapat membantu suatu perusahaan untuk meningkatkan kualitas dari produk atau layanan yang ditawarkan mereka.

Adapun yang dapat dijadikan sebagai sasaran dari SI untuk penerapan TQM berdasarkan hasil yang dikemukakan pada jurnal ini di antaranya yaitu:

1. Memodifikasi proses kerja untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas produk
2. Menjamin kelancaran aliran informasi serta hasil dari beragam analisa yang dibutuhkan untuk peningkatan kualitas manajemen maupun produktivitas lrrja
3. Membantu staf untuk mengembangkan dan merawat basis data yang berisi seluruh informasi yang terkait dengan pegawai, perusahaan, pemasok, pelanggan, dan sebagainya
D. Komentar

Berdasarkan hasil review dari jurnal ini, penulis dari review ini (selaku pemilik dari blog) ingin menyampaikan komentar tentang keunggulan dan kekurangan yang didapat dari jurnal:

1. Keunggulan - jurnal ini memiliki keunggulan berupa pembahasan yang mendalam tentang metode TQM dan SI berikut dengan hubungan antara keduanya. Selain itu, alur dari pembahasannya (berikut dengan data yang dipergunakan untuk melakukan penelitian tersebut) dibuat dengan mengikuti fakta-fakta yang ada pada saat penelitian dilakukan, dan hasil yang didapat dari penelitian ini bersifat empiris alias dapat mewakili apa yang terjadi di lapangan secara baik. Alhasil jurnal ini dapat membuktikan beberapa studi kasus yang dilakukan pada periode sebelum penelitian yang menghasilkan jurnal ini dilakukan.

2. Kekurangan - meskipun pembahasan tentang metode TQM dan SI berikut dengan hubungan antara keduanya di bagian pengenalan cukup mendalam, namun pada bagian ini pula ditemukan kekurangan paling utama dari jurnal ini, yaitu pembahasan dimensi dari studi yang terlalu panjang. Jika ada sebagian poin pembahasan metode TQM dan SI yang dipindahkan ke bagian pembahasan hasil penelitian, maka pembaca dari jurnal ini dapat membandingkan antara apa yang diprediksi (teori) oleh penulis dengan apa yang didapatkan (praktik) dari lapangan secara lebih baik.

=========================================================================

Sumber:

1. Jurnal

http://thescipub.com/PDF/ajassp.2012.666.672.pdf

2. Gambar

https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Scientific_journal_icon.svg

Thursday, January 12, 2017

Trend SI/TI dalam Bidang Kesehatan dan Media serta New Media

Pada bulan Januari di tahun 2017 ini penulis menghadirkan sebuah artikel baru tentang dunia SI dan TI, kali ini mencakup tentang dunia kesehatan dan dunia media (termasuk pula new media yang akan dijelaskan di post ini).

-----------------------------------Trend SI/TI dalam Bidang Kesehatan-----------------------------------

Dalam dunia kesehatan pada masa kini, semua penyelesaian masalah yang berkaitan dengan kesehatan manusia dan sebagainya tidak terlepas dari penggunaan sistem yang menggunakan prinsip-prinsip dalam dunia SI dan TI. Ada beberapa hal yang menandai berkembangnya SI dan TI dalam bidang kesehatan, yaitu:

1. Perkembangan, Manfaat dan Peranan Komputer di Bidang Kesehatan

Endoskopi dengan bantuan komputer (sumber: https://debbymet0412.files.wordpress.com/2014/09/endoschopy.jpg)
Secara sederhana perkembangan komputer dalam bidang kesehatan dimulai sejak era 1960-an, dimana terdapat beberapa diskusi yang membicarakan tentang bagaimana komputer dapat memperbaiki berbagai praktik pelayanan kesehatan. Dalam diskusi ini, banyak yang berpikir bahwa penggunaan komputer dapat membantu dokter dalam mengakses dokumen literatur dan prosedur-prosedur secara lebih cepat, serta mengurangi risiko kesalahan yang dilakukan oleh para perawat dalam penanganan suatu kasus kesehatan.

Sayangnya, usaha untuk menerapkan teknologi komputer dalam bidang kesehatan pada masa tersebut (dan hingga mencapai era 1980-an) kemudian menjadi stagnan karena berbagai faktor berikut ini:
  • Komputer pada masa tersebut masih cukup mahal, dan kemampuan pemrosesannya masih rendah (dibandingkan dengan masa sekarang)
  • Para administrator medis memilih untuk tidak berinvestasi ke teknologi yang belum dapat terjamin keuntungannya secara finansial
  • Minat dari para dokter terhadap sistem formal masih rendah dan lebih memilih mempertahankan otonominya sendiri dalam penanganan medis
  • Menurunnya pendanaan terhadap penyedia pelayanan kesehatan karena pelaksanaan diagnosis-related group (DRG) untuk rumah sakit dan munculnya penatalaksanaan perawatan dalam sistem pelayanan kesehatan
Namun sejak era 1990-an, berkembangnya teknologi pendukung sistem jaringan Internet serta menurunnya harga komputer secara signifikan membuat pembicaraan tentang peranan komputer dalam bidang kesehatan kembali dibahas (bahkan kemudian berlanjut ke tahap penerapan komputer di bidang tersebut). Pada era 2000-an awal, Amerika Serikat menjadi salah satu negara yang pertama kali menerapkan komputerisasi bidang kesehatan, lalu dilanjutkan dengan negara-negara lain di seluruh sisi dunia, di antaranya yaitu Indonesia. Secara umum perkembangan komputer dalam bidang kesehatan berkembang sangat pesat, dimana pada masa kini (2017) berbagai macam peralatan berbasis komputer maupun program penunjang aktivitas pelayanan kesehatan dikembangkan untuk menunjang seluruh aktivitas pelayanan kesehatan tersebut. Termasuk pula dalam hal ini sistem e-Health yang akan dijelaskan di bagian berikutnya dari post ini.

Komputer pada saat ini memegang peranan yang sangat penting dalam bidang kesehatan, dan bahkan cakupannya menyebar hingga ke nyaris seluruh aspek dari bidang kesehatan itu sendiri. Aspek-aspek bidang kesehatan yang dicakup peranannya oleh komputer di antaranya yaitu:
  • Aspek administrasi - komputerisasi aspek administrasi dari bidang kesehatan sangat membantu di dalam penyimpanan, pengelompokan, dan pengolahan data secara cepat dalam jumlah yang besar. Tanpa komputer, akan sangat sulit untuk memeriksa banyaknya data pasien, stok obat, dan data lainnya yang dimiliki oleh rumah sakit dan klinik. Hal ini dikarenakan komputer mempermudah staf rumah sakit dalam mengelola seluruh data secara praktis dan efisien, sehingga ini berefek pada semakin mudahnya pengoperasian sebuah rumah sakit dalam periode harian hingga tahunan
  • Aspek farmasi - dalam aspek ini, komputer juga berperan sangat penting, misalnya untuk merekam data dari resep dan dosis suatu obat, serta menyimpan data harga obat tersebut. Selain itu, adanya komputer dalam aspek farmasi juga sangat membantu untuk mengelompokkan macam-macam obat berdasarkan kegunaannya secara tepat dan teliti.
  • Mendiagnosa suatu penyakit - dengan adanya komputer DNA yang sudah dirancang secara khusus di dalam bidang kesehatan, melakukan proses suatu penyakit bukan hal yang sulit lagi, karena dengan menggunakan komputer maka semua proses yang dibutuhkan untuk mengetahui nama dan jenis dari suatu penyakit akan berjalan dengan lebih cepat, mudah dan akurat
  • Mengawasi status pasien - proses pelacakan dari seluruh pasien yang datang dengan berdasarkan data yang tersimpan di dalam database, baik itu yang sudah pernah datang atau baru pertama kali berobat akan dapat dilakukan dengan mudah. Data-data pribadi pasien juga dengan mudah dapat dilihat oleh seluruh staf di rumah sakit. Selain itu, dokter ataupun perawat dapat melihat rekam data hasil periksa, keluhan dan riwayat penyakit sebelumnya yang pernah diderita oleh si pasien, tanggal kedatangan pasien terakhir kali berobat, rekam data dari resep yang pernah diberikan, dan masih banyak lagi
  • Penelitian - semua penelitian ilmiah yang dilakukan dalam bidang kesehatan sangatlah bergantung pada penggunaan komputer. Penggunaan komputer dapat memaksimalkan hasil penelitian, karena dengan adanya komputer penelitian itu dapat ditelusuri secara lebih dalam dan detail dengan tingkat keakuratan yang tinggi. Misalnya penelitian untuk mendeteksi bakteri atau virus baru, pendeteksian DNA, dan lain sebagainya
Manfaat yang didapat di antaranya yaitu:
  • Mendiagnosa suatu penyakit dan menentukan obat yang cocok secara mudah dan cepat
  • Melihat dan menganalisa organ-organ tubuh bagian dalam manusia secara teliti
  • Mengawasi status, merekam data pribadi dan riwayat penyakit dari para pasien
  • Memberi dasar-dasar data yang diperlukan secara cepat dalam penelitian ilmiah yang dilakukan tim laboratorium rumah sakit
  • Memasukkan, menyimpan, mengelompokkan dan mengolah data-data medis yang dimiliki rumah sakit secara cepat dan mudah
Sehingga terlihat dengan jelas bahwa komputer sangatlah berperan penting dalam bidang kesehatan pada masa kini, karena penggunaan komputer meringankan beban kerja dokter, perawat dan staf rumah sakit maupun klinik, sekaligus mengefisiensikan jumlah tenaga yang harus dikeluarkan untuk menangani seluruh aktivitas pelayanan kesehatan secara baik.

2. Pengertian Sistem e-Health

e-Health dan seluruh istilah yang berasosiasi dengannya (sumber: https://jendelapengetahuanweb.files.wordpress.com/2016/05/ehealth_wordle.jpeg?)
Secara sederhana, sebuah sistem e-Health dapat dipahami sebagai penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam bidang kesehatan untuk mengambil, mengolah dan menghasilkan berbagai informasi kesehatan, mendukung pelaksanaan layanan klinis dan administrasi yang berkaitan dengan pelayanan tersebut, serta mendukung pelaksanaan pendidikan dalam bidang ini. Dari definisi ini dapat terlihat jelas bahwa e-Health mengutamakan penggunaan perangkat komputer dan komunikasi berbasis elektronika lainnya untuk mendukung semua aktivitas pelayanan kesehatan secara menyeluruh.

Dalam penggunaannya, sistem e-Health memungkinkan seorang tenaga penyuluh kesehatan (baik itu dokter, perawat dan sebagainya) untuk melaksanakan pelayanan klinis tanpa harus terhalangi oleh jarak, karena seluruh kegiatan pelayanan klinis yang dilakukan dengan menggunakan sistem e-Health berlangsung melalui koneksi data yang bersifat real-time. Alhasil, pelayanan klinis kini dapat dilaksanakan secara cepat dalam waktu yang lebih singkat ketimbang cara konvensional yang membutuhkan waktu cukup lama untuk pelaksanaannya.

3. Diagram Sistem e-Health

Sebuah sistem e-Health biasanya terdiri dari sejumlah unit medis yang dihubungkan oleh jaringan komunikasi berbasis Internet (biasanya menggunakan jaringan lokal), dengan setiap unit medis tersebut bertanggungjawab atas bidang yang ditangani. Umumnya sebuah unit medis terdiri dari beberapa komponen berikut:
  • Komputer khusus untuk keperluan medis (beserta dengan perangkat lunak yang bersesuaian)
  • Perangkat antar muka untuk pasien
  • Perangkat biomedika (jenisnya bergantung kepada keperluan dari unit tersebut)
  • Perangkat antar muka pengguna beserta dengan alat input dan output yang bersesuaian
  • Perangkat telekomunikasi berikut dengan jaringannya
Antara satu unit medis dengan unit medis lainnya biasanya komunikasi dilakukan dalam dua pola:
  • Real-time, dimana pola ini umumnya dipergunakan untuk seluruh aktivitas komunikasi yang membutuhkan kesinkronan antara satu unit medis dengan unit lainnya (terutama dipergunakan pada saat melakukan konsultasi yang membahas tentang suatu penyakit yang harus ditangani oleh unit spesialis)
  • Store and forward, dengan penggunaan yang paling banyak untuk pola ini yaitu pada saat pengiriman data rekapitulasi dari suatu unit medis ke unit lainnya
Jika digambarkan di dalam sebuah ilustrasi, maka polanya akan menjadi seperti di gambar berikut:

Contoh diagram sistem e-Health (sumber: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjWIddRy9nzBw4Sp1c6C8wSu_Bz6_UfSOLhCi4kCriIEFQUGfy_vbjmmaRSp0njgT5oKKG8Fe5nGrSSOLBEQ6vxs34oqktwLZR4-RjpeiyUkErHFbbrD_m1Eej2BBC6WNxxTneoUHXeTnyw/s640/3.png)

4. Manfaat e-Health

Salah satu penggunaan sistem e-Health di bidang kesehatan (sumber: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhIwOp6pDnSNjC6qpB2hrZMFriqFtsMfddC-VIotNdVoxbdS16wdpkAKm2HunfekR24n6Sd6uorOvMQjJfqD8wtmUaG01NkF4ustUUlN6WeN02OlgHPQyNixth6_xRXO_b5UvAPNethySyq/s1600/unduhan+(1).png)
Dalam penerapannya, e-Health memiliki manfaat yang sangat besar bagi bidang kesehatan. Hal ini dikarenakan teknologi berbasis komputer yang diusung oleh e-Health sangat membantu dokter dan pelaku-pelaku kegiatan lainnya di bidang kesehatan dalam mendapatkan dan menyampaikan berbagai informasi tentang kesehatan dalam waktu cepat dan secara terinci, sekaligus meringankan beban kerja di tengah tingginya frekuensi aktivitas yang berlangsung dalam bidang kesehatan.

Adapun secara rinci e-Health memiliki manfaat sebagai berikut:
  • Meningkatkan efisiensi kerja dan penurunan biaya dalam kegiatan medis
  • Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan secara lebih baik
  • Membantu pembuktian diagnosa melalui evaluasi ilmiah
  • Membantu pemberdayaan pasien dan konsumen dalam penggunaan teknologi informasi
  • Mendorong terjadinya hubungan yang lebih baik antara pasien dan tenaga kesehatan
  • Mendorong adanya pendidikan teknologi informasi bagi tenaga kesehatan dan masyarakat
  • Mendorong tumbuhnya jaringan komunikasi dan pertukaran informasi antara semua lembaga pelayanan kesehatan
  • Membantu perluasan ruang lingkup pelayanan kesehatan secara cepat tanpa harus terlalu bergantung pada penyediaan fasilitas fisik yang sangat banyak seperti pada cara konvensional
Dari manfaat-manfaat di atas sangatlah terlihat bahwa e-Health merupakan solusi terbaik bagi pelaku aktivitas bidang kesehatan dalam melakukan pelayanan kepada pasien dan konsumen secara cepat dan efisien. Ini dikarenakan bahwa e-Health menuntut agar semua orang yang menggunakannya harus memperhatikan ketelitian yang sangat tajam dalam aktivitasnya, yang dimana ini bertujuan untuk menekan risiko dari kesalahan diagnosa maupun malpraktik dalam pelayanan klinis di lembaga pelayanan kesehatan (apabila dibandingkan dengan cara konvensional).

5. Contoh Penerapan e-Health

Contoh penggunaan sistem telefarmasi (sumber: http://www.scriptpro.com/uploadedImages/Content/Content_Pods/SP_Products/Telepharmacy/Telepharmacy-RPh-verify.jpg?n=1139)
Salah satu penerapan dari sistem e-Health yang dapat ditemui yaitu sistem telefarmasi, dengan tujuan utama dari sistem ini yaitu untuk mengizinkan seorang pasien yang berlokasi di tempat yang tidak memungkinkan untuk dapat berkomunikasi dengan seorang apoteker secara langsung untuk mendapatkan obat melalui jaringan telekomunikasi. Selain itu, sistem ini juga bertujuan untuk menyelesaikan masalah kekurangan tenaga apoteker yang ada di daerah terpencil. Dalam sistem ini, terdapat beberapa fungsi yang diterapkan untuk mewujudkan penyelesaian dari masalah-masalah tersebut, yang utamanya berupa:
  • Pengawasan terapi obat
  • Konsultasi pasien
  • Pemberian otorisasi untuk obat yang membutuhkan resep dokter
  • Pengawasan untuk kepatuhan terhadap aturan-aturan formularium melalui telekonferensi atau videokonferensi
  • Pengepakan dan pemberian label untuk obat yang membutuhkan resep tanpa membutuhkan kehadiran apoteker di tempat dengan menggunakan mesin remote dispensing
Salah satu negara yang sukses mengawali penggunaan telefarmasi di dunia untuk penggunaan di kalangan masyarakat umum yaitu Kanada, dimana negara ini menerapkan telefarmasi sejak tahun 2003 dikarenakan terjadinya kekurangan apoteker secara meluas di seluruh wilayah negara tersebut. Pada tahun tersebut penggunaan telefarmasi di Kanada dimulai dari sebuah rumah sakit di kota Cranbrook (yang terletak di provinsi British Columbia), yang pada saat itu apoteker yang bekerja di rumah sakit tersebut menggunakan sistem telefarmasi untuk membantu pengawasan tenaga farmasi di sebuah rumah sakit lain di kota terdekat yang tidak mampu mempekerjakan apoteker secara reguler.

Dikarenakan kesuksesan sistem tersebut, maka kemudian penggunaan telefarmasi menyebar ke wilayah lain di provinsi tersebut, yang kemudian sistem tersebut dipergunakan juga sebagai sistem yang bertugas untuk menggantikan apoteker apabila dia sedang tidak hadir karena sakit atau mengambil cuti. Lalu pada tahun 2007, mesin remote dispensing pertama dipasang di provinsi Ontario, yang kemudian menuai kesuksesan besar karena mempercepat waktu yang dibutuhkan dalam proses pembelian obat dengan resep dokter. Dan masih di negara bagian yang sama, pada tahun 2009 sebuah rumah sakit di sana menggunakan sistem telefarmasi secara bersama dengan mempekerjakan apoteker di areal rumah sakit tersebut, yang dimana sistem telefarmasi tersebut dipergunakan untuk memeriksa pemesanan obat, sementara sang apoteker menangani pasien secara langsung dan mengawasi keamanan dalam pengobatan di rumah sakit.

Atas kesuksesan di Kanada, sistem telefarmasi kemudian menyebar ke seluruh dunia, dimana pada saat ini negara yang menggunakan yaitu Inggris, Belgia, Kuba, Jerman, Italia dan sebagainya. Ini membuktikan bahwa sistem telefarmasi (yang sudah jelas berbasis teknologi telekomunikasi serta teknologi komputer) sangatlah membantu dalam penanganan seluruh tindakan pengobatan yang dilakukan di bidang kesehatan, dikarenakan sistem berbasis komputer dapat meringankan beban kerja sekaligus meningkatkan tingkat konsentrasi dari seorang apoteker dalam menangani tindakan langsung (yang berkaitan dengan obat-obatan) yang membutuhkan tingkat konsentrasi yang sangat tinggi.

6. Bioinformatika

Gambaran umum dari bioinformatika (sumber: http://ccs.miami.edu/wp-content/uploads/2015/02/ccbi.jpg)
Bioinformatika merupakan sebuah istilah yang merujuk kepada bidang antardisiplin yang mempelajari penerapan teknik komputasi (termasuk pengembangan metode dan software) untuk mengelola dan menganalisa informasi biologis. Dalam bidang ini, biasanya penyelesaian masalah-masalah biologis yang terutama menggunakan sekuens DNA dan asam amino serta berbagai informasi yang berkaitan dengannya dilakukan dengan menggunakan penerapan berbagai metode yang didasarkan pada bidang ilmu matematika, statistika dan informatika. Karena sistem utamanya berbasis komputer, maka dapat dikatakan bahwa bioinformatika mengedepankan penggunaan basis data untuk mengelola informasi biologis yang telah didapat dalam proses penyelesaian masalah biologis tersebut.

Secara umum bioinformatika memiliki beberapa cakupan bidang kerja yang mencakup berbagai sub-bidang lainnya, yang sebagian di antaranya yaitu:
  • Analisa sekuen DNA - di sini komputer digunakan untuk membantu proses analisa terhadap struktur dari sebuah rantai DNA, termasuk pula perubahan-perubahan yang terjadi pada rantai DNA tersebut
  • Ekspresi gen dan protein - dalam proses penerjemahan informasi genetik menjadi protein (serta protein menjadi fenotip), komputer akan memeriksa secara statistikal apakah terdapat perbedaan pada struktur genetik maupun protein yang dapat berakibat pada perubahan sifat dari suatu organisme secara keseluruhan, sehingga perubahan yang bersifat buruk dapat dihentikan secara menyeluruh
  • Biologi jaringan dan sistem - seluruh bagian dari sebuah jaringan antarmolekul pada suatu organisme akan dibaca oleh komputer secara menyeluruh untuk menentukan tipe-tipe data yang terdapat dalam jaringan tersebut. Setelah benar-benar terdeteksi secara jelas, maka kemudian pola kerja dari jaringan tersebut disimulasikan dengan komputer untuk menganalisa sekaligus membuat gambaran visual dari seluruh hubungan kompleks yang terjadi pada proses-proses metabolisme biologi tingkat selular
Database menjadi sebuah hal yang penting bagi bioinformatika, karena pada umumnya sebuah database bioinformatika berisi berbagai macam informasi seperti sekuen protein dan DNA, struktur molekular, fenotip pada organisme, keragaman biologi, dan sebagainya. Semua data yang ada di dalamnya sendiri dapat berupa data empiris, data perkiraan atau kombinasi keduanya, atau bahkan kombinasi dari beberapa database lain. Alhasil jumlah dari data yang dapat dipergunakan sebagai sumber rujukan untuk analisa pada sebuah penelitian menjadi semakin banyak, dan juga hasil analisa menggunakan bioinformatika menjadi lebih akurat (untuk penelitian yang membutuhkan sumber-sumber yang bertindak sebagai pembanding dengan subjek penelitian).

Kehadiran bioinformatika sendiri sangatlah menguntungkan para peneliti di bidang-bidang keilmuan yang berkaitan dengan biologi, karena bioinformatika memudahkan peneliti dalam menggali dan mengolah berbagai informasi yang terdapat di dalam sebuah rantai genetik, baik itu sifat-sifat gen yang berpengaruh kepada keturunan, potensi kerusakan yang dibawa oleh sebuah sel kanker, dan sebagainya. Alhasil ini sangat membantu para peneliti dalam membuat metode-metode yang tepat untuk pengembangan kualitas produk-produk berbasis biologi serta metode pengobatan yang sangat berguna dalam mengobati berbagai penyakit  di dunia kesehatan.

-----------------------------Trend SI/TI dalam Bidang Media dan New Media-----------------------------

Pada dunia media (terutama media massa), SI dan TI kini memegang peranan yang sangat penting, dimana penyebaran dari berita menjadi semakin cepat berkat semakin canggihnya teknologi yang diusung oleh SI dan TI. Di sini akan dibahas beberapa topik yang berkaitan dengan media, yaitu:

1. Manfaat Media

Gambaran media massa (sumber: http://infopublik.id/cni-content/uploads/modules/posts/20161127080830.jpg)
Dalam kehidupan sehari-hari, media memiliki berbagai manfaat yang sangat banyak bagi mereka yang membacanya (atau menontonnya). Umumnya manfaat dari media dikategorikan ke dalam 4 jenis, yaitu:
  • Sarana informasi - media dapat membantu penyebaran suatu informasi ke masyarakat secara lebih mudah, sehingga masyarakat dapat mengetahui suatu peristiwa yang terjadi di sekitarnya maupun di daerah lain secara cepat
  • Sarana hiburan - di sini dapat dikatakan bahwa media menawarkan berbagai jenis hiburan yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat untuk melepaskan rasa lelah dari aktivitas sehari-hari, sehingga kondisi fisik dan jiwanya menjadi rileks dan terhibur
  • Sarana pendidikan - dengan menggunakan media, semua ilmu pengetahuan dapat tersebar ke masyarakat secara lebih mudah, dan ini akan berakibat pada semakin tingginya kekayaan pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat
  • Sarana sosialisasi - berbagai ide, kebijakan dan peraturan dapat disebarkan ke masyarakat secara lebih mudah berkat penggunaan media. Alhasil ini berefek pada meningginya tingkat keaktifan masyarakat dalam berbagai kegiatan di lingkungan sosial, baik itu yang bersifat langsung maupun tidak langsung
Dari 4 kategori manfaat media di atas, dapat dikatakan bahwa media memiliki peran yang besar dalam membentuk karakteristik masyarakat. Hal ini dikarenakan semua informasi yang disampaikan melalui media akan sampai ke masyarakat dengan mudah (terutama untuk mereka yang sangat melek media), dan juga pihak yang menyampaikan informasi (biasanya yaitu pemerintah sebagai pihak yang mengayomi masyarakat) dapat mengarahkan perilaku keseharian dari masyarakat menuju ke sikap-sikap yang telah ditetapkan sebagai sikap yang patut menjadi panutan bagi seluruh unsur masyarakat.

2. Tantangan New Media

Acara diskusi yang membahas tentang new media di Indonesia (sumber: http://media.viva.co.id/thumbs2/2008/12/09/60601__ki_ka_rizal_mallarangeng_anindya_bakrie_dan_ninok_leksono__663_382.jpg)
New media merupakan sebuah istilah dalam dunia media massa yang merujuk kepada keberagaman cara penyajian konten media dalam satu kesatuan maupun komando, dengan tujuan yaitu menghadirkan beragam konten kepada khalayak yang beragam pula sesuai minat dan media yang dipergunakan untuk menikmatinya (elektronik, online, mobile, dan sebagainya). Dari sini dapat dikatakan bahwa pada masa kini banyak ragam dari perangkat yang dapat dipergunakan untuk menikmati konten yang ditawarkan oleh media, atau bahkan satu perangkat bisa mengakses berbagai jenis konten media. Namun sayangnya, dari sini kemudian muncul tantangan bagi new media itu sendiri, dengan beberapa di antaranya yaitu:
  • Perubahan sosial dan budaya pada masyarakat - di sini terdapat fakta yaitu adanya perubahan pada pola sosial dan budaya di masyarakat dalam hal preferensi terhadap media. Masyarakat pada masa kini memiliki kebebasan untuk memilih dan memperlakukan media yang mereka inginkan, yang artinya adalah masyarakat tidak lagi dapat dipaksa untuk mengikuti kemauan institusi media, melainkan masyarakat bebas memilih media mana yang ingin mereka baca maupun mereka tonton
  • Perkembangan teknologi media massa - berkembangnya teknologi memicu terjadinya peralihan di bentuk saluran penyampaian konten media massa, dimana media berbasis kertas (media cetak) sebagian besar digantikan oleh media elektronik yang biaya aksesnya lebih murah, lebih cepat diakses dan lebih ramah lingkungan
  • Krisis finansial global - new media menjadi semakin populer pasca krisis finansial global yang terjadi di periode 2007 hingga 2009, dimana media cetak di beberapa negara (terutama Amerika Serikat) akhirnya berhenti terbit karena terjadinya kesulitan keuangan dan pengurangan tenaga kerja (baik itu di industri media cetak maupun industri periklanan yang mendukung kelangsungan media cetak). Alhasil untuk menyiasatinya pengelola industri media cetak kemudian mengalihkan penerbitannya ke media online, yang dimana ini turut menaikkan popularitas dari new media
  • Biasnya konten - berbeda dengan media konvensional, new media memiliki kecenderungan untuk memiliki kebiasan konten yang jauh lebih besar, akibat terjadinya pemangkasan jumlah staf biro editor yang bertugas untuk menyaring berita yang masuk sekaligus semakin ketatnya persaingan bisnis media yang mengharuskan wartawan untuk semakin sering memperbarui berita yang didapat dari kondisi di lapangan
Keempat tantangan tersebut secara gamblang menjelaskan bahwa jalan bagi new media untuk mencapai kesempurnaan masih sangatlah panjang dan jauh, yang dengan kata lain siapapun yang berkutat dengan new media haruslah terus berusaha untuk memperbaiki dan menyempurnakan kualitas dari konten yang disajikan kepada masyarakat. Ini tidak lain merupakan salah satu keharusan dalam strategi pemasaran suatu media agar mereka (masyarakat) yang menjadi pembaca maupun penonton dari media tersebut tetap menjadi pelanggan setia dari media tersebut.

3. Elemen Media

Elemen-elemen yang terdapat pada sebuah media (sumber: http://images.slideplayer.info/11/3069816/slides/slide_8.jpg)
Dalam sebuah media, terdapat beberapa elemen-elemen penyusun yang pada dasarnya merupakan elemen penyusun komunikasi massa. Elemen-elemen tersebut adalah:
  • Komunikator - di sini komunikator pada media massa merupakan institusi seperti stasiun televisi, penerbit surat kabar dan sebagainya, yang dimana mereka menyampaikan informasi kepada audiens
  • Isi - sebuah media tentunya memiliki isi, yang dimana isinya dapat berupa informasi maupun hiburan
  • Audiens - yang dimaksud dengan audiens bisa berupa pembaca atau penonton (bergantung dari bentuk yang dipergunakan untuk menyampaikan konten media), dengan jumlah audiens sangat besar dan jenisnya sangatlah heterogen, serta terpisah dari sang komunikator secara fisik
  • Umpan balik - audiens memberikan reaksi terhadap apa yang disampaikan oleh komunikator, namun biasanya ini membutuhkan jangka waktu tertentu (dan dengan pola komunikasi yang juga tidak langsung) sebelum sang komunikator kemudian menerima reaksi dari audiens
  • Gangguan - ada dua jenis gangguan, yaitu gangguan saluran (gangguan yang bersifat teknis seperti kesalahan cetak, kata yang hilang dan interupsi dari orang lain ketika sedang membaca atau menonton suatu media) dan gangguan semantik (gangguan yang bersifat bahasa dan terutama terjadi saat proses komunikasi sedang berlangsung)
  • Gatekeeper - istilah ini merujuk kepada mereka yang memberikan izin bagi tersebarnya sebuah informasi. Biasanya yang berperan di sini yaitu seorang editor, baik itu yang bertugas untuk menyunting media tertulis atau media audio-visual
  • Pengatur - kategori ini diisi oleh mereka yang secara tidak langsung mempengaruhi aliran dari pesan yang disampaikan melalui media. Meskipun mereka bukanlah orang-orang yang secara langsung berada di dalam lingkungan industri media itu sendiri, namun mereka ikut menentukan kebijakan redaksional bagi industri media
  • Filter - sesuai dengan namanya yang dapat diartikan sebagai "saringan", filter bertindak sebagai sebuah kerangka pikir bagi audiens dalam menyaring dan menerima pesan dari apa yang disampaikan oleh media. Umumnya terdapat 3 sisi kehidupan yang dapat menjadi sebuah filter dalam media, yaitu psikologi, budaya dan fisik. Ketiganya sendiri mempengaruhi kualitas dan kuantitas dari pesan yang diterima dan respons yang dihasilkan oleh audiens

4. Contoh Kasus

Search Engine Optimization dan yang berkaitan dengannya (sumber: https://www.reliablesoft.net/wp-content/uploads/2013/02/seo-puzzle-style.jpg)
Search Engine Optimization (SEO) merupakan sebuah istilah yang dipergunakan untuk merujuk kepada serangkaian proses sistematis yang bertujuan untuk meningkatkan volume dan kualitas dari lalu lintas kunjungan ke suatu situs web melalui mesin pencari. Proses ini tentunya memanfaatkan mekanisme kerja (alias algoritma) dari mesin pencari yang dipergunakan untuk mengunjungi situs web tersebut tersebut. Saat ini SEO merupakan salah satu teknik yang sangat ampuh dalam mendapatkan pengunjung situs web, karena penggunaan metode-metode SEO membantu sebuah situs web untuk dapat terdaftar di dalam indeks sistem mesin pencari secara optimal.
Dalam praktiknya, pengaplikasian metode-metode yang ada di dalam SEO mengharuskan para pemilik situs web untuk mematuhi beberapa "peraturan" agar situs web milik mereka dapat diindekskan oleh mesin pencari, yang dimana sebagian di antaranya adalah:
  • Kode yang dipergunakan untuk membuat desain situs web (terutama HTML) haruslah yang ramah terhadap algoritma SEO yang dimiliki oleh mesin pencari
  • Kata kunci pencarian harus dalam bentuk sebuah frase, yang dimana ini mampu mengoptimalkan hasil pencarian (bila dibandingkan dengan menggunakan satu kata saja)
  • Dalam membuat situs web, situs harus diberi sebuah nama yang sesuai dengan tema dari situs web yang dibuat, dan nama tersebut dapat mencerminkan frase kata kunci pencarian dari situs web itu sendiri
  • Situs web yang telah dipublikasikan haruslah dikirimkan ke direktori yang bersesuaian dengan kategori dari situs tersebut
  • Untuk mengoptimalkan algoritma mesin pencari, dibutuhkan pengulangan dari penggunaan kata kunci pencarian pada halaman yang ada di situs web. Namun jumlahnya haruslah sesuai agar mesin pencari tidak mengalami kebingungan dalam memproses permintaan pencarian
Adapun dalam prinsip kerjanya, optimalisasi hasil pencarian dengan berdasarkan prinsip-prinsip yang dijunjung oleh SEO bekerja terutama dengan cara memanfaatkan kata kunci pencarian. Kata kunci pencarian menjadi inti paling penting dalam SEO karena mesin pencari melakukan pencarian di World Wide Web dengan menggunakan kata kunci yang dimasukkan ke dalam kolom pencarian oleh pengguna dari mesin pencari. Penggunaan kata kunci pencarian yang mudah dimengerti di dalam situs web yang dibuat akan memudahkan pengguna dalam mencari situs web tersebut melalui mesin pencari.

Umumnya untuk menerapkan SEO biasanya pemilik situs memanfaatkan jasa konsultasi SEO yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan yang melakukan spesialisasi dalam bidang ini. Hal ini dikarenakan tahap-tahap yang dibutuhkan oleh proses penerapan SEO sangatlah banyak, dan untuk mengerjakannya dibutuhkan kesabaran sekaligus saran-saran yang tepat dari para konsultan SEO, yang dimana ini sangat penting agar tidak terjadi kesalahan yang berujung kepada kegagalan untuk mendapatkan pengunjung. Meskipun begitu, terkadang ada yang "nekat" melakukan penerapan SEO secara sendiri (tanpa membutuhkan konsultasi ke para konsultan), yang dimana mereka yang biasanya menggunakan cara ini adalah yang sudah profesional dalam penerapan SEO.

Terdapat dua metode yang dipergunakan dalam menerapkan SEO, yaitu:
  • White Hat - metode ini sangat direkomendasikan untuk pemilik situs web dalam upaya menjaring pengunjung, karena metode ini mengikuti peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh operator situs mesin pencari dan juga mengizinkan pemilik situs web dalam "mengamankan" peringkat yang lebih tinggi di SERP (Search Engine Result Pages)
  • Black Hat - metode ini cenderung mengutamakan penggunaan cara-cara yang nyaris atau bahkan benar-benar ilegal (seperti memanipulasi mekanisme mesin pencarian, melakukan spamdexing, dan sebagainya). Biasanya konsultan-konsultan SEO menghindari cara-cara ini agar situs web milik klien mereka (yaitu pemilik situs web) tidak diblokir dari hasil pencarian oleh situs-situs mesin pencarian
Dari sini dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan SEO, pemilik situs web dapat "memasarkan" situs yang dimilikinya secara lebih baik. Ini dikarenakan prinsip utama yang dimiliki SEO yaitu mengutamakan kemudahan pengunjung dalam mencari sebuah situs web secara lebih optimal, sehingga selain pengguna dapat menemukan situs yang diinginkan dalam waktu cepat dan dengan hasil yang tepat (berdasarkan frase kata kunci pencarian yang diinginkan oleh pengguna), pemilik situs web juga mendapatkan pengunjung ke situsnya. Alhasil kedua pihak (pengguna maupun pemilik situs) saling mendapat keuntungan satu sama lain.

--------------------------------------------------Sumber--------------------------------------------------

http://ascopubs.org/doi/full/10.1200/jop.2005.1.2.54
https://andikaferianblog.wordpress.com/penerapan-komputer-dalam-bidang-kesehatan/
https://boedimanagoes.wordpress.com/2014/09/25/sistem-e-health-dalam-bidang-kesehatan/
https://en.wikipedia.org/wiki/Telepharmacy
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0959440X12000632
https://en.wikipedia.org/wiki/Bioinformatics
http://bib.oxfordjournals.org/cgi/pmidlookup?view=long&pmid=15153301
http://library.binus.ac.id/eColls/eThesisdoc/Bab2HTML/2011200777MCBab2001/page17.html
https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20110115161917AAXMRJW
http://belajaretika.blogspot.co.id/2010/06/regulasi-media-menjawab-tantangan-new.html
http://angintimur147.blogspot.co.id/2012/10/konvergensi-media-tantangan-baru-media.html
http://www.academia.edu/3690323/11_elemen_komunikasi_massa
http://adealfira23.blogspot.co.id/2016/09/elemen-elemen-media-massa_30.html
https://en.wikipedia.org/wiki/Search_engine_optimization
http://umum.galihpamungkas.com/2015/09/29/teknik-dan-cara-kerja-seo-search-engine-optimization/
http://www.vibranttechsolutions.com/seo/search-engine-optimization.html